Puisi 《登科后》 – 孟郊
昔日龌龊不足夸,
今朝放荡思无涯。
春风得意马蹄疾,
一日看尽长安花。
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
Di masa lalu, hidupku yang kecil dan sempit tak layak disebut,
Hari ini, jiwaku bebas dan pikiranku tak terbatas.
Dengan angin musim semi, aku bangga, dan kudaku berlari kencang,
Dalam satu hari, aku melihat semua bunga Chang’an.
Terjemahan dalam bahasa Inggris
In the past, my petty, narrow life was not worth mentioning,
Today, my spirit is free and my thoughts know no bounds.
With the spring breeze, I am proud and my horse gallops,
In one day, I see all the flowers of Chang’an.
Konteks dan Makna
Puisi ini adala buah karya dari Meng Jiao (751–814), seorang penyair terkenal Dinasti Tang. Meng Jiao lulus ujian kekaisaran yang terkenal sulit pada usia yang relatif tua, setelah beberapa kali gagal.
Ungkapan “melihat semua bunga dalam satu hari” adalah metafora untuk kegembiraan yang luar biasa, pencapaian, dan perasaan bahwa seluruh dunia merayakannya bersamanya.
Asal usul ungkapan “angin sepoi-sepoi musim semi” menjadi sinonim dengan lulus ujian, sementara “kuda yang berlari kencang” dan “bunga-bunga Chang’an” adalah citra ikonik dari karya ini.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai puisi Deng Ke Hou (Setelah Lulus Ujian) karya Meng Jiao dalam bahasa Indonesia
《登科后》 – 孟郊
Dēng Kē Hòu – Mèng Jiāo
昔日龌龊不足夸,
Xī rì wò chuò bù zú kuā
今朝放荡思无涯。
Jīn zhāo fàng dàng sī wú yá
春风得意马蹄疾,
Chūn fēng dé yì mǎ tí jí
一日看尽长安花。
Yī rì kàn jìn Cháng’ān huā
1. Arti Harfiah (Terjemahan Langsung)
Baris 1
Kesempitan dan penderitaan di masa lalu tidak perlu dibanggakan/disebut lagi.
Baris 2
Pagi ini, kegembiraanku meluap-luap dan pikiranku terasa tak terbatas.
Baris 3
Di bawah hembusan angin musim semi yang menyenangkan, kaki kuda berlari dengan kencang.
Baris 4
Dalam satu hari saja, aku telah melihat seluruh bunga di kota Chang’an.
2. Arti Kiasan (Metafora)
Angin musim semi (春风 – Chūn fēng)
Melambangkan keberuntungan, kesuksesan, dan kelegaan setelah masa sulit yang panjang.
Derap kaki kuda yang Kencang (马蹄疾 – mǎ tí jí)
Menggambarkan semangat yang menggebu-gebu dan perasaan ringan seolah-olah beban hidup telah terangkat.
Melihat bunga Chang’an (看盡長安花 – kàn jìn Cháng’ān huā)
Di masa Dinasti Tang, Chang’an adalah ibu kota. “Melihat bunga” bukan sekadar melihat tanaman, melainkan kiasan untuk menikmati segala kemuliaan, kehormatan, dan keindahan jabatan baru yang ia dapatkan setelah lulus ujian kenegaraan yang sangat sulit.
3. Penafsiran Puisi
Puisi ini ditulis oleh Meng Jiao saat ia berusia 46 tahun, setelah ia akhirnya lulus ujian kekaisaran (Jinshi) setelah berkali-kali gagal.
Kontras Emosi
Dua baris pertama menunjukkan kontras tajam antara masa lalu yang penuh kemiskinan serta penghinaan (pahit), dengan masa kini yang penuh kemuliaan (manis).
Ekspresi Kemenangan
Meng Jiao tidak menahan diri, ia mengekspresikan kegembiraannya secara jujur dan terbuka. Kecepatan kuda dalam puisi tersebut mencerminkan detak jantungnya yang penuh semangat.
4. Makna dan Pesan Moral
Ketekunan membuahkan hasil
Puisi ini adalah perayaan atas ketabahan. Meskipun Meng Jiao menderita selama puluhan tahun, satu hari keberhasilan mampu menghapus semua kepahitan masa lalu.
Optimisme
Mengajarkan bahwa setelah musim dingin yang suram (kegagalan), akan selalu ada “angin musim semi” (keberhasilan) bagi mereka yang tidak menyerah.
Simbol Budaya
Kalimat terakhir, “Melihat semua bunga Chang’an dalam satu hari,” kini menjadi peribahasa di Tiongkok untuk menggambarkan seseorang yang sedang berada di puncak kesuksesan dan merasa sangat bahagia.











