Pecinan Tionghoa

Selamat Datang

Pecinan berasal dari bahasa Jawa yang berarti suatu wilayah (tempat tinggal) yang mayoritas penghuninya adalah warga Tionghoa / warga keturunan China. Selain sebagai pusat hunian warga keturunan Tionghoa, pecinan juga berfungsi sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Dalam bahasa Inggris, Pecinan disebut Chinatown.

Hampir di setiap kota besar terdapat wilayah Pecinan, yang sering disebut juga sebagai Kampung Cina. Pecinan yang terkenal di Jawa adalah Pecinan di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Magelang. Kawasan pecinan yang bisa kita temui di Jakarta adalah kawasan Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini disebut-sebut sebagai pecinan terbesar di Indonesia dan dunia.

Di daerah Pecinan umumnya terdiri dari ruko (singkatan dari “rumah toko”) dan terdapat klenteng (dulunya disebut kuil) yang merupakan tempat bersembahyang / tempat pemujaan dewa – dewi kepercayaan warga Tionghoa. Ruko yang ada di sepanjang Pecinan digunakan untuk tempat berdagang / berjualan sekaligus tempat tinggal warga Tionghoa. Bangunan dan rumah yang ada di kawasan Pecinan dapat terlihat dari ciri – ciri fisiknya yang pada umumnya berupa bangunan berlantai dua. Lantai satu pada umumnya dipakai sebagai tempat usaha, sedangkan lantai dua sebagai tempat tinggal.

Di luar negeri seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Asia Tenggara, Pecinan merupakan kawasan tempat tinggal orang Tionghoa yang merantau dan kemudian menetap disana.

selengkapnya

Asal usul Pecinan

Bangsa Tionghoa yang merantau mulai masuk ke negara Indonesia pada abad ke-7. Pada abad ke-11, mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, terutama di pesisir timur Sumatra dan Kalimantan Barat. Kemudian pada abad ke-14, ada warga Tionghoa yang mulai bermigrasi ke Pulau Jawa, terutama di sepanjang pantai utara Jawa. Perpindahan ini merupakan akibat dari aktivitas perdagangan antara India dan Tiongkok melalui jalur laut. Pecinan yang terdapat di kota - kota pedalaman Pulau Jawa mulai berkembang pesat pada abad ke 19, pada jaman penjajahan Belanda. Tujuan pemerintah Belanda mengembangkan kawasan Pecinan ini adalah untuk memperluas jalur distribusi hasil bumi.

Warga Tionghoa yang merantau ini mudah membaur dengan penduduk lokal sehingga mereka pun diterima dengan baik. Para perantau yang membawa keluarga mereka, kemudian membentuk perkampungan yang disebut dengan Kampung China atau Pecinan. Tak hanya ke Indonesia saja, bangsa Tionghoa juga merantau ke negara - negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura. Mereka juga merantau ke belahan dunia lain, seperti Kanada, Amerika Serikat, Eropa, dan negara lainnya. Saat ini, kawasan Pecinan yang ada di sana tidak hanya menjadi tempat berkumpul sesama warga Tionghoa dan keturunannya. Kawasan - kawasan ini telah menjadi tujuan wisata. Gaya bangunannya yang khas menarik wisatawan untuk berkunjung ke kawasan Pecinan. Toko-toko yang menjual suvenir, toko obat, dan restoran juga menjadi minat wisatawan untuk berkunjung.

Beberapa Ciri dari Arsitektur Tionghoa di daerah Pecinan sampai sebelum tahun 1900

David G. Khol (1984:22), penulis buku “Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya”, memberikan semacam petunjuk terutama bagi orang awam, bagaimana caranya untuk melihat ciri-ciri dari arsitektur warga Tionghoa yang ada terutama di Asia Tenggara.

Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

• Courtyard : Ruang terbuka pada rumah warga Tionghoa. Ruang terbuka ini sifatnya lebih privat dan umumnya digabung dengan kebun/taman. Rumah-rumah warga Tionghoa di Indonesia yang ada di daerah Pecinan jarang mempunyai courtyard. Kalaupun ada lebih berfungsi untuk memasukkan cahaya alami siang hari atau untuk ventilasi saja. Courtyard pada arsitektur Tionghoa di Indonesia biasanya diganti dengan teras-teras yang cukup lebar.

• Penekanan pada bentuk atap bangunannya yang khas : Diantara semua bentuk atap, hanya ada beberapa yang paling banyak di pakai di Indonesia. Diantaranya jenis atap pelana dengan ujung yang melengkung ke atas yang disebut sebagai model Ngang Shan.

Ngang Shan

• Elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang disertai dengan ornamen ragam hias) : Keahlian orang Tionghoa terhadap kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu, tidak perlu diragukan lagi. Ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Tionghoa. Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung), atau pertemuan antara kolom dan balok, bahkan rangka atapnya dibuat sedemikian indah, sehingga tidak perlu ditutupi. Bahkan rangka ini diperlihatkan polos, sebagai bagian dari keahlian pertukangan kayu yang piawai.

• Penggunaan warna yang khas : Warna pada arsitektur Tionghoa mempunyai makna simbolik. Warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen yang spesifik pada sebuah bangunan. Meskipun banyak warna-warna yang digunakan, tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur Tionghoa di Indonesia. Warna merah banyak dipakai pada dekorasi interior, dan umumnya dipakai untuk warna pilar. Merah menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan,selain itu merah juga simbol dari kebajikan, kebenaran dan ketulusan, serta sesuatu yang positif. Itulah mengapa, warna merah sering dipakai dalam arsitektur Tionghoa.

Jenis-Jenis Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia

Sebagian besar arsitektur Tionghoa sebelum tahun 1900 dapat ditemukan di daerah Pecinan. Kawasan Pecinan yang relatif sempit dan penduduknya sangat padat tidak memungkinkan adanya bangunan dalam skala besar. Pada umumnya jenis bangunan arsitektur Tionghoa yang ada di Pecinan adalah:
- Klenteng
- Ruko (rumah toko)
- Rumah Tinggal

Pecinan yang terdapat di kota – kota di Indonesia

1. Pecinan Jakarta

Pecinan Jakarta

Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1619, orang-orang Tionghoa sudah tinggal di sebelah Timur Sungai Ciliwung yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. Namun, ketika Belanda membangun loji (bangunan bersejarah peninggalan Belanda) di tempat itu, mereka pun kemudian diusir. Setelah muncul peristiwa Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (tanggal 9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari Stadhuisa (kini Museum Fatahillah).

2. Pecinan Bandung

Pecinan Bandung

Menurut catatan sejarah yang ada, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Cheng Hoo (1405-1433). Ketika itu, Cheng Hoo berkeliling dunia untuk membuka jalur sutra dan keramik. Cheng Hoo pun pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur bangsa Tionghoa berdatangan dan membangun pecinan di beberapa daerah di pulau Jawa.

Pecinan yang terdapat di kota Bandung berkembang pesat di sekitar Pasar Baru sejak tahun 1905. Umumnya warga Tionghoa memiliki usaha dagang. Sebagian warga Tionghoa yang tinggal di Pulau Jawa berpindah ke kota Bandung pada saat terjadi perang Dipenogoro (1825). Pecinan di Bandung terlihat seperti toko – toko pada umumnya, tidak ada aksesoris khusus seperti Pecinan yang ada di daerah lainnya. Warganya pun beragam, tidak hanya keturunan Tionghoa.

3. Pecinan Semarang

Pecinan Semarang

Kawasan Pecinan di Semarang mendapat julukan daerah 1001 klenteng karena banyaknya klenteng yang di mana masing-masing klenteng mempunyai keistimewaan sendiri. Klenteng yang paling dikenal adalah Klenteng Sam Poo Kong. Di klenteng ini tersimpan kemudi dan jangkar kapal Laksamana Cheng Ho yang digunakan pada waktu berlayar ke Pulau Jawa sekitar tahun 1406. Sementara klenteng terbesar di kawasan Pecinan Kota Semarang adalah Klenteng Wie Wie Kiong.

4. Pecinan Magelang

Pecinan Magelang

Daerah ini terdiri dari 2 ruas jalan. Ruas pertama adalah ruas jalan yang dikhususkan untuk kendaraan bermotor yang merupakan ruas jalan satu arah. Sedangkan ruas jalan satunya lagi merupakan jalur khusus untuk becak. Ruas jalan ini pada jaman dulu dilalui kereta api yang kini sudah tidak ada lagi di Magelang.

Pecinan merupakan benchmark Magelang di samping tempat lainnya. Yang jelas di ruas jalan ini tidak ada satupun ruang yang kosong karena semuanya telah dipadati oleh pertokoan.

Pecinan yang ada di luar negeri

1. Pecinan Yokohama (Jepang)

Pecinan Yokohama, Jepang

Pecinan di Yokohama merupakan Pecinan terbesar di Asia, berkembang pada tahun 1859 ketika Port of Yokohama dibuka untuk perdagangan luar negeri karena banyaknya para pedagang Tiongkok yang menetap disana. Makanan khas Tionghoa mudah ditemukan, karena lebih dari 200 restoran menyajikan masakan Tionghoa tradisional maupun modern. Kawasan ini merupakan sebuah "taman makanan" banyak penjual yang menawarkan berbagai hidangan dari restoran terbaik.

Pecinan Yokohama, Jepang

2. Pecinan Paris (Perancis)

Pecinan Paris, Perancis

Di kawasan Pecinan banyak terdapat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Pengaruh Paris tidak hilang di kawasan ini, karena terdapat banyak toko dengan perabotan rumah tangga yang mewah tetapi norak, salon kuku dan toko pakaian. Sebagian besar toko-toko dan restoran tutup pada hari Senin.

3. Pecinan Brisbane (Australia)

Pecinan Brisbane, Australia

Pecinan di Brisbane adalah versi Pecinan yang lebih modern. Brisbane's Chinatown Mall dibuka pada 1987. Warna-warni yang dipakai pada arsitekturnya dirancang oleh arsitek Tiongkok dan terdapat sepasang patung singa besar yang terbuat dari batu di dekat pintu masuk. Kawasan ini populer bagi wisatawan dan para penduduk setempat, khususnya pada akhir pekan. Banyak toko yang terlihat lebih khas China dari pada di China sekalipun.

4. Pecinan Bangkok (Thailand)

Pecinan Bangkok, Thailand

Pecinan di Bangkok sama tuanya dengan kota Bangkok itu sendiri. Pada akhir tahun 1700-an, kota Bangkok diperluas, pedagang China pun diminta untuk pindah, tetapi mereka menolak dan tetap bertahan di dekat sungai di mana mereka telah tinggal sejak lama. Di daerah ini terdapat contoh arsitektur Bangkok awal, yang ditemukan di jalan yang sempit. Wisatawan dapat menemukan kuil Wat Traimit dengan mudah dan rumah-rumah terbesar di dunia.

5. Pecinan San Francisco (Amerika Serikat)

Pecinan San Francisco, Amerika Serikat

Pecinan di San Francisco adalah komunitas warga China terbesar di luar Asia dan tertua di Amerika Utara. Dengan gang-gang yang menarik dan di sekelilingnya kita bisa melihat tempat seperti yang ada di Hongkong, banyak laki-laki tua sedang bermain catur dan melakukan Tai Chi di Portsmouth Square. Suasana lain yang dapat dirasakan dengan adanya Bank Kanton dan Sing Chong Building.

6. Pecinan New York (Amerika Serikat)

Pecinan New York, Amerika Serikat

Kota New York adalah kota yang paling banyak terdapat kawasan Pecinan di luar Asia, karena tidak hanya ada 1 Pecinan, tapi 3, yaitu: yang utama di Manhattan, Flushing di Queens, dan komunitas yang ramai di Brooklyn's Sunset Park. Canal Street adalah pusat dari Manhattan, dimana kita bisa menjepret momen - momen menarik dengan kamera. Terdapat sejumlah besar toko obat herbal yang terbaik disini. Kawasan ini hanya buka sampai 11 malam, berbeda dengan kehidupan kota New York yang tidak pernah tidur.

7. Pecinan Sydney (Australia)

Pecinan Sydney, Australia

Pecinan di Sydney sangat cerah, bermandikan matahari, karena kawasan ini adalah salah satu tempat yang paling terang dan juga bersih yang ada di Sidney. Lokasi Pecinan yang sekarang berada di Haymarket merupakan lokasi ketiga, sebelumnya terdapat di Rocks yang terletak di dekat pelabuhan, kemudian pindah ke Market Street, dan akhirnya menetap di sini pada tahun 1920-an. Kawasan ini penuh dengan factory outlet. Disini juga merupakan tempat terbaik untuk merayakan Imlek.

selengkapnya